Jawaban langsung

Yang bisa dipelajari dari cara Netflix mengelola media sosial bukanlah besar anggarannya, melainkan tiga kebiasaan: menampilkan sesuatu yang bisa dinikmati audiens alih-alih memamerkan logo, berbicara dengan nada santai seperti manusia biasa, dan mendengarkan percakapan sebelum ikut bicara. Netflix juga cenderung mengunggah lebih sedikit tetapi setiap unggahan dibuat untuk diperhatikan.

Pelajaran tersebut bisa diterapkan oleh toko, penyedia jasa, restoran, sampai bisnis B2B di Indonesia, asalkan disesuaikan dengan kapasitas tim dan konteks pasar setempat. Bagian berikutnya membahas satu per satu pelajaran itu beserta cara menerapkannya secara realistis, lalu menjelaskan bagaimana 9 dapat membantu menata prosesnya.

Kenapa contoh Netflix relevan untuk pemasar di Indonesia

Netflix bergerak di industri hiburan, tetapi tantangannya mirip dengan bisnis lain: harus membuat orang bersedia meluangkan waktu di tengah lautan konten. Di Indonesia, media sosial sudah menjadi ruang utama orang mencari rekomendasi, membandingkan pilihan, dan menanyakan pengalaman orang lain sebelum memutuskan membeli atau berlangganan.

Artinya, kanal sosial bukan lagi sekadar pelengkap. Ia sering menjadi titik pertama seseorang berkenalan dengan sebuah merek. Kalau unggahan di sana hanya berisi pengumuman, audiens tidak punya alasan untuk berhenti menggulir.

Yang tidak bisa disalin dari Netflix adalah skala produksi dan jangkauan globalnya. Yang bisa disalin adalah prinsip kerjanya: memahami audiens, memilih momen yang tepat, dan menjaga konsistensi gaya komunikasi.

Tunjukkan sesuatu yang bisa dinikmati, bukan sekadar memperlihatkan merek

Banyak akun bisnis mengunggah hal yang sama berulang kali: foto logo, ucapan selamat hari besar, foto ruangan kantor, atau potongan berita perusahaan. Audiens biasanya langsung menggulir karena tidak ada yang bisa dinikmati dari unggahan seperti itu.

Netflix mengambil arah sebaliknya. Akunnya menampilkan cuplikan tayangan, dialog yang mudah diingat, potongan adegan yang lucu, dan hal-hal yang membuat orang ingin menonton atau membicarakannya. Inti pesannya sederhana: berikan sesuatu yang bernilai bagi penonton, bukan hanya pengumuman tentang diri sendiri.

Bisnis di Indonesia bisa menerjemahkan ini dengan cara yang sederhana. Alih-alih hanya memotret produk di atas meja, tunjukkan cara memakainya, masalah yang diselesaikan, atau perbandingan pilihan yang sering ditanyakan pelanggan. Untuk bisnis jasa, cerita tentang proses kerja sehari-hari sering lebih menarik daripada daftar layanan.

Bicara dengan nada santai dan manusiawi

Salah satu hal yang membuat akun Netflix mudah didekati adalah gaya bahasanya. Captionnya pendek, kadang bercanda, dan terasa seperti ditulis oleh orang, bukan oleh template perusahaan.

Banyak bisnis di Indonesia justru memakai bahasa formal berlebihan, misalnya kalimat yang terdengar seperti siaran pers untuk sekadar mengumumkan promo. Audiens di media sosial biasanya lebih responsif terhadap sapaan langsung, kalimat pendek, dan humor yang sesuai konteks lokal.

Meski begitu, santai bukan berarti asal-asalan. Nada bicara tetap harus selaras dengan nilai merek, dan ada topik yang sebaiknya dihindari karena sensitif bagi sebagian orang. Menetapkan batas ini di awal membuat tim tidak ragu saat menulis caption.

Kualitas unggahan lebih penting daripada jumlahnya

Banyak pemilik bisnis percaya bahwa semakin sering mengunggah, semakin cepat dikenal. Keyakinan ini masuk akal sampai batas tertentu, tetapi jika isinya tipis dan berulang, audiens bisa merasa terganggu dan berhenti mengikuti akun tersebut.

Netflix tampak lebih memilih unggahan yang dipikirkan matang. Setiap konten dibuat dengan tujuan tertentu, bukan sekadar mengisi jadwal. Prinsip ini lebih mudah ditiru oleh tim kecil daripada mengejar jumlah unggahan harian.

Untuk bisnis dengan sumber daya terbatas, menyusun jadwal yang realistis jauh lebih berguna daripada memaksakan diri. Misalnya dua sampai tiga unggahan bermutu per minggu disertai respons cepat di kolom komentar, biasanya lebih berdampak daripada unggahan setiap hari yang isinya hanya pengulangan.

Dengarkan percakapan sebelum menyiarkan

Media sosial pada dasarnya dua arah. Netflix terlihat memperhatikan apa yang sedang dibicarakan penonton, lelucon yang sedang populer, dan permintaan yang muncul di kolom komentar, lalu menjadikannya bahan konten.

Banyak bisnis melewatkan bagian ini. Mereka sibuk menjadwalkan unggahan, tetapi jarang membaca pertanyaan di direct message, keluhan di ulasan, atau kalimat keberatan yang muncul berulang di komentar.

Padahal, justru di sana tersimpan bahan paling berharga. Pertanyaan yang sering muncul bisa diubah menjadi konten penjelasan, keluhan yang berulang bisa menjadi bahan perbaikan layanan, dan permintaan pelanggan bisa memandu prioritas produk berikutnya.

Promosi tidak harus terasa seperti iklan

Konten promosi Netflix umumnya dikemas dengan cara yang menghibur, sehingga orang menontonnya sampai habis meskipun isinya sebenarnya ajakan untuk menonton sesuatu. Prinsip ini bisa dipakai bisnis apa pun, dari kuliner sampai jasa profesional.

Sebuah penawaran bisa disampaikan lewat cerita singkat, kuis, tantangan, atau penjelasan santai tentang alasan harga sebuah paket berbeda dari yang lain. Format seperti ini membuat informasi tetap tersampaikan tanpa membuat audiens merasa sedang dibombardir iklan.

Yang perlu dijaga adalah kejujuran. Sebagus apa pun kemasannya, detail penting seperti isi penawaran, harga dalam Rupiah, syarat, dan masa berlaku harus tetap jelas. Kepercayaan lebih sulit dibangun kembali daripada dibangun sejak awal.

Menyesuaikan pelajaran ini dengan skala bisnis di Indonesia

Bisnis di Indonesia umumnya bekerja dengan anggaran yang dihitung dalam Rupiah dan tim yang merangkap banyak tugas. Karena itu, meniru seluruh pendekatan Netflix sekaligus tidak realistis dan tidak perlu.

Langkah yang lebih masuk akal adalah memilih satu kanal utama lebih dulu, misalnya Instagram untuk bisnis yang mengandalkan visual, lalu menentukan satu jenis konten yang paling relevan dan bisa dikerjakan konsisten setiap minggu. Setelah kebiasaan itu terbentuk, barulah menambah kanal atau format baru.

Pengukuran pun bisa dimulai dari hal sederhana: berapa banyak orang menyimpan unggahan, berapa banyak pertanyaan lewat pesan langsung, berapa banyak yang mengklik tautan ke katalog atau WhatsApp. Angka-angka ini dievaluasi berkala, misalnya setiap bulan, untuk melihat konten mana yang layak dilanjutkan.

Cara 9 bekerja

9 membantu bisnis menata pemasaran digital secara tenang, termasuk pengelolaan media sosial. Ruang lingkup yang biasa dikerjakan mencakup penentuan arah konten, penyusunan kalender unggahan, produksi materi, pengelolaan iklan berbayar, hingga pelaporan sederhana yang mudah dipahami pemilik bisnis.

Prosesnya berjalan bertahap: diskusi awal untuk memahami bisnis dan audiensnya, peninjauan kanal yang sudah ada, penyusunan rencana, pelaksanaan, lalu evaluasi bersama untuk menentukan langkah berikutnya. Kami juga menjelaskan batasannya sejak awal, misalnya materi yang perlu disiapkan klien dan hal-hal yang berada di luar kendali kami.

9 tidak menjanjikan peringkat tertentu, jumlah pengikut, atau hasil dalam tenggat waktu yang pasti, karena hasil pemasaran digital dipengaruhi banyak faktor di luar kendali tim. Yang kami kejar adalah proses yang rapi, keputusan yang didasarkan pada data yang tersedia, dan komunikasi yang jujur sepanjang kerja sama.

Diskusikan konteks bisnis Anda di halaman kontak atau WhatsApp. Kami tidak menjanjikan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam waktu tetap.