Jawaban langsung
Meme marketing adalah penggunaan meme internet — gambar berteks, potongan video pendek, atau frasa yang sedang ramai diperbincangkan — sebagai bagian dari konten pemasaran. Manfaat utamanya bukan sekadar menambah jumlah tayangan, melainkan membuat merek terasa dekat dengan percakapan yang sudah berjalan di media sosial.
Namun meme bukan format yang netral. Keberhasilannya bergantung pada konteks, waktu, dan selera humor audiens. Meme yang tepat membuat merek terasa manusiawi; meme yang salah bisa terasa memaksa, ketinggalan zaman, atau bahkan menyinggung. Karena itu meme sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari perencanaan konten, bukan trik sekali pakai.
Mengapa meme layak dipertimbangkan
Meme hidup di ruang yang sama dengan tempat orang Indonesia menghabiskan waktu: grup percakapan, Instagram, TikTok, dan X. Formatnya ringan, mudah dibagikan ulang, dan tidak menuntut perhatian panjang. Bagi bisnis, ini membuka peluang untuk masuk ke percakapan tanpa harus selalu tampil seperti iklan.
Dari sisi produksi, meme juga relatif sederhana. Banyak yang bisa dibuat dari materi yang sudah beredar, tangkapan layar percakapan sehari-hari, atau potongan video pendek. Yang mahal bukan biaya pembuatannya, tetapi kemampuan membaca konteks: memahami apa yang sedang lucu, bagi siapa, dan sampai kapan lelucon itu masih pantas dipakai.
Perlu diingat bahwa meme paling sering dinikmati oleh audiens muda, terutama milenial dan generasi Z. Meski begitu, bukan berarti kelompok usia lain tidak bisa ikut terhibur. Yang menentukan adalah apakah bahasa, referensi, dan gaya humornya sesuai dengan kebiasaan audiens Anda.
Menyesuaikan meme dengan suara merek
Suara merek adalah kepribadian sebuah bisnis ketika berbicara kepada publik. Sebelum membuat meme, tentukan dulu batasnya: topik apa yang boleh dijadikan bahan lelucon, sejauh mana merek boleh menyindir, dan siapa yang berwenang menyetujui konten sebelum tayang.
Bisnis jasa keuangan, layanan kesehatan, dan produk yang menyangkut kepentingan banyak orang biasanya perlu nada yang lebih hati-hati dibanding merek kuliner atau hiburan. Bukan berarti mereka tidak boleh lucu, tetapi humornya harus tetap selaras dengan janji dan tanggung jawab yang dipegang.
Cara praktisnya, tuliskan pedoman singkat berisi tiga hal: gaya bahasa yang dipakai, daftar topik yang dihindari, dan contoh konten yang dianggap sudah sesuai. Pedoman ini membuat tim tidak perlu menebak-nebak setiap kali ingin mengunggah sesuatu yang lucu.
Mengikuti tren tanpa jadi ketinggalan zaman
Meme punya masa pakai. Ada yang bertahan bertahun-tahun, ada yang hanya ramai beberapa minggu lalu menghilang. Format meme bergambar dari awal 2010-an, misalnya, kini jarang dipakai karena selera humor dan cara orang berkomunikasi sudah berubah.
Karena itu, memantau percakapan menjadi pekerjaan rutin, bukan tugas insidental. Cukup luangkan waktu untuk melihat apa yang sedang dibicarakan audiens, frasa apa yang muncul berulang, dan konteks apa yang menyertainya. Yang perlu dihindari adalah ikut memakai tren setelah gelombangnya lewat, karena merek akan terlihat tidak peka terhadap perkembangan.
Tren juga sering melekat pada peristiwa tertentu. Sebelum ikut serta, pastikan konteks aslinya tidak berkaitan dengan hal sensitif seperti musibah, politik, atau kelompok tertentu. Salah membaca latar belakang sebuah tren adalah salah satu penyebab utama konten merek menuai reaksi negatif.
Membuat meme sendiri, bukan menjiplak
Meniru meme yang sudah dibuat orang lain untuk keperluan promosi sering kali terasa janggal. Lebih baik mengambil polanya, lalu mengisinya dengan sudut pandang bisnis Anda: keluhan pelanggan yang sering terdengar, kebiasaan sehari-hari pengguna produk, atau hal kecil yang akrab bagi pelanggan setia.
Perhatikan juga materi yang dipakai. Menggunakan foto orang tanpa izin, lagu berhak cipta, atau karya ilustrator tanpa persetujuan dapat menimbulkan masalah. Jika memakai template yang beredar luas, cek dulu apakah penggunaannya memang dibebaskan untuk keperluan komersial.
Hindari bahan lelucon yang menyentuh suku, agama, ras, golongan, kondisi fisik, atau keadaan ekonomi seseorang. Humor yang membangun kedekatan biasanya berasal dari kejadian yang dialami banyak orang, bukan dari menertawakan pihak lain.
Menyesuaikan format dengan tempatnya
Meme yang sama belum tentu cocok di semua kanal. Di Instagram, gambar statis masih bekerja baik, terutama di fitur Stories dan kiriman yang mudah dibagikan ulang. Di TikTok dan Reels, meme lebih sering berupa video pendek dengan teks di layar dan potongan audio yang sedang tren.
Di X, meme berbentuk teks pendek dan tangkapan layar percakapan lebih lazim. Sementara di aplikasi pesan seperti WhatsApp, meme biasanya menyebar lewat status dan grup, sehingga ukuran gambar serta keterbacaan teks menjadi hal penting.
Kanal yang lebih formal seperti LinkedIn menuntut pendekatan berbeda. Humor masih bisa dipakai, tetapi biasanya perlu dikaitkan dengan pengalaman kerja atau tantangan profesional agar tetap terasa relevan.
Mengukur apakah meme bekerja
Jangan menilai konten meme hanya dari jumlah suka. Perhatikan seberapa sering konten dibagikan ulang dan disimpan, karena kedua tanda itu menunjukkan bahwa audiens merasa konten tersebut layak diteruskan kepada orang lain.
Bacalah kolom komentar untuk melihat apakah percakapan yang muncul masih seputar leluconnya, atau mulai mengarah ke produk dan merek. Perhatikan juga nada komentarnya: apakah cenderung ramah, acuh, atau justru keberatan. Reaksi negatif yang berulang pada format tertentu adalah sinyal untuk mengubah pendekatan.
Agar mudah dievaluasi, kelompokkan konten meme berdasarkan jenis humor dan topiknya, lalu bandingkan bagaimana masing-masing kelompok diterima. Pola yang muncul dari perbandingan ini lebih berguna daripada melihat satu unggahan yang kebetulan ramai.
Kapan sebaiknya menahan diri
Ada saatnya merek justru perlu berhenti bercanda. Ketika sedang terjadi bencana, masa berkabung nasional, atau krisis yang menyangkut pelanggan, konten lucu bisa dianggap tidak pantas. Menunda satu unggahan biasanya jauh lebih murah daripada harus menjelaskan alasan di baliknya.
Hal serupa berlaku untuk bisnis yang bergerak di bidang sensitif, seperti layanan kesehatan, keuangan, hukum, atau produk yang menyangkut keselamatan. Di sektor-sektor ini, humor yang salah bisa mengurangi kepercayaan yang sudah dibangun lama.
Menahan diri bukan tanda kekurangan ide. Justru sebaliknya, kemampuan memilih momen menunjukkan bahwa merek memahami audiensnya, bukan sekadar mengejar perhatian.
Cara 9 bekerja
9 membantu bisnis menata pemasaran digital secara tenang dan terarah, termasuk ketika Anda ingin memakai konten yang lebih ringan seperti meme. Kami mulai dengan memahami audiens, posisi merek, dan batasan yang Anda pegang, lalu menyusun rencana konten yang bisa dijalankan tim Anda sehari-hari.
Ruang lingkup pekerjaan kami umumnya mencakup pemetaan audiens dan pesan, penyusunan pedoman suara merek, perencanaan konten per kanal, serta pendampingan saat tim Anda menyiapkan dan mengevaluasi materi. Kami juga membantu membaca hasil konten agar keputusan berikutnya berpijak pada data yang Anda miliki sendiri.
Kami tidak menjanjikan peringkat, jumlah pengikut, atau hasil dalam tenggat waktu tertentu, karena performa pemasaran dipengaruhi banyak hal di luar kendali kami, termasuk perubahan algoritma dan dinamika percakapan publik. Yang kami kejar adalah proses yang rapi, keputusan yang terjelaskan, dan konten yang konsisten dengan karakter bisnis Anda.
Diskusikan konteks bisnis Anda di halaman kontak atau WhatsApp. Kami tidak menjanjikan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam waktu tetap.