Jawaban langsung
Infografis yang mampu menjangkau konsumen Indonesia bukan yang paling ramai secara visual, melainkan yang tujuannya jelas sejak awal. Sebelum menyentuh desain, tentukan topik yang menjawab 'apa' dan 'mengapa', lakukan riset yang memadai, pilih sudut pandang pembaca, sertakan angka yang relevan, lalu rangkai semuanya dalam alur cerita yang mudah diikuti. Visual berfungsi mengantar orang membaca, bukan menggantikan isi.
Urutan kerja yang rapi membuat prosesnya lebih tenang: topik, riset, sudut pandang, data, cerita, desain, produksi, lalu distribusi. Bagian-bagian berikut membahas setiap tahap dengan konteks pasar Indonesia, termasuk pertimbangan membuat sendiri, memakai desainer lepas, atau menyerahkan produksi ke tim pemasaran digital.
Mulai dari topik yang menjawab 'apa' dan 'mengapa'
Topik yang baik biasanya berangkat dari pertanyaan yang memang ada di kepala audiens. Ketika tujuan infografis jelas, pesannya sampai dengan tepat. Lihat dari sudut pandang pasar sasaran: kebutuhan mereka akan informasi tertentu adalah prioritas, begitu pula kekhawatiran yang menyertai topik tersebut.
Dalam konteks Indonesia, topik yang sering dicari berkisar pada perbandingan pilihan, biaya, langkah awal, kesalahan umum, atau panduan praktis. Hindari topik yang terlalu luas karena sulit diselesaikan dan membingungkan pembaca. Batasi ruang lingkup sampai satu pertanyaan utama bisa dijawab tuntas.
Perlu diingat bahwa infografis bukan artikel yang bisa memuat segalanya. Ia bekerja paling baik ketika mengangkat satu gagasan pokok dengan beberapa poin pendukung. Jika materi terasa melebar, kemungkinan besar ada dua topik yang sedang dipaksakan menjadi satu.
Riset yang cukup sebelum menyusun visual
Riset menentukan bobot infografis Anda. Ambil informasi dari sumber formal yang bisa diverifikasi, seperti publikasi lembaga resmi, laporan industri, data pemerintah, atau riset akademik. Untuk data angka, perhatikan satuan, periode, dan cakupannya. Proses ini bisa memakan waktu, terutama ketika Anda membutuhkan angka yang presisi.
Kumpulkan juga informasi pendukung untuk topik yang sama agar standar pengetahuannya konsisten. Jika ada data yang saling bertentangan, jangan dihindari; jelaskan perbedaannya supaya pembaca mendapat gambaran utuh. Akurasi jauh lebih penting daripada kecepatan publikasi, karena satu angka yang salah bisa merusak kredibilitas materi sekaligus merek yang menaunginya.
Simpan catatan riset Anda dengan rapi. Selain memudahkan pengecekan ulang saat desain sedang disusun, catatan tersebut berguna ketika materi perlu diperbarui di kemudian hari atau ketika ada pertanyaan dari pembaca.
Tentukan sudut pandang audiens Indonesia
Setelah data terkumpul, tentukan dari sudut mana informasi akan dibacakan. Sudut pandang membantu memilih mana yang ditonjolkan dan mana yang cukup disebut sekilas. Untuk memahami kebutuhan audiens, kumpulkan masukan lewat kanal yang mereka gunakan, misalnya survei singkat di Instagram, Facebook, LinkedIn, atau grup komunitas.
Masukan tersebut membantu menentukan kedalaman informasi. Audiens yang mengakses dari ponsel umumnya butuh ringkasan yang cepat ditangkap, sementara pembaca B2B mungkin mengharapkan detail dan rujukan yang lebih lengkap. Perhatikan juga pilihan istilah: gunakan bahasa yang lazim di industri sasaran dan hindari jargon yang hanya dipahami kalangan sendiri.
Angka membuat infografis lebih berbobot
Angka berfungsi sebagai bukti, bukan hiasan. Kehadirannya memberi nilai pada informasi yang disampaikan dan membantu pembaca menakar besaran sebuah persoalan. Tampilkan angka apa adanya; jangan membulatkan atau memelintirnya agar terlihat lebih mengesankan.
Angka bisa ditonjolkan secara kreatif, misalnya diperbesar, diubah menjadi ikon, atau disandingkan dalam perbandingan sederhana. Meski begitu, konteksnya harus tetap jelas: sebutkan periode, wilayah, dan populasi yang relevan. Jika data berasal dari survei atau laporan pihak lain, cantumkan sumbernya secara umum di dalam desain agar pembaca tahu dari mana angkanya datang.
Bangun alur cerita, bukan tumpukan data
Grafik yang menarik dikombinasikan dengan informasi yang disusun seperti cerita. Artinya, ada tema yang mengikat setiap bagian, rasa penasaran yang dipelihara dari atas ke bawah, dan emosi yang disentuh sehingga pembaca terdorong menyerap datanya. Cerita yang baik tidak berhenti di masa kanak-kanak; untuk audiens dewasa, ceritanya pun perlu matang dan relevan.
Dalam praktik, ini berarti menentukan pembuka, pertanyaan atau masalah, lalu penutup yang memberi arah. Contoh alurnya: masalah yang dialami pembaca, penyebabnya, cara menanganinya, dan langkah berikutnya. Tidak perlu dramatis; cukup jelas dan jujur, karena pembaca profesional biasanya menghargai kejelasan lebih dari gaya berlebihan.
Jika alur terasa membingungkan, coba bacakan urutan panelnya sebagai kalimat biasa. Bila kalimatnya tidak nyambung, kemungkinan besar urutan visualnya juga perlu diperbaiki.
Desain: sesuaikan gaya visual dengan audiens
Infografis memuat visual orisinal yang menarik perhatian. Untuk mencari ide, galeri desain seperti Pinterest dan Behance bisa menjadi sumber inspirasi, bukan untuk ditiru mentah-mentah. Saat menyusun grafik, pilih gaya yang sesuai dengan topik dan informasi, bukan sekadar tren yang sedang ramai.
Pertimbangkan siapa yang akan melihatnya. Audiens muda umumnya tertarik pada grafis yang terasa ringan dan menyenangkan, sedangkan audiens korporat atau institusi lebih nyaman dengan tampilan formal. Untuk skema warna, tiga warna utama dan dua warna aksen biasanya sudah cukup; lebih dari itu berisiko membuat tampilan sulit dibaca. Menjaga konsistensi warna dengan identitas merek juga membantu orang mengenali materi Anda di kanal mana pun.
Produksi: sendiri, desainer lepas, atau tim agensi
Setelah topik dan materi siap, tentukan siapa yang mengerjakan desainnya. Jika Anda punya kemampuan, membuat sendiri memberi kontrol penuh atas hasil akhir. Berbagai alat desain saat ini cukup ramah untuk pemula, mulai dari yang berbasis template sampai yang lebih fleksibel; menonton tutorial membantu memahami dasar-dasarnya sebelum mulai.
Bila waktu terbatas, desainer lepas bisa menjadi pilihan. Komunikasikan lingkup pekerjaan sejak awal: ukuran, format, jumlah revisi, tenggat, dan hak penggunaan. Sepakati biaya, apakah per jam atau per proyek, dan tuangkan dalam kesepakatan tertulis. Kontes desain juga bisa dipertimbangkan, tetapi brief yang jelas tetap wajib agar hasilnya tidak melebar dari kebutuhan.
Ketika infografis menjadi bagian dari kampanye yang lebih besar, menyerahkan produksi ke tim pemasaran digital membuat pekerjaan lebih tertata. Tim dapat menyelaraskan topik, data, desain, dan distribusi sehingga tidak ada aset yang dibuat tanpa tujuan.
Periksa ulang sebelum dipublikasikan
Sebelum tayang, lakukan pemeriksaan sederhana. Pastikan judul mencerminkan isi, angka dan konteksnya akurat, alurnya mudah diikuti, serta warna dan teks tetap terbaca di layar ponsel. Periksa juga ukuran berkas agar tidak memberatkan halaman saat dibuka.
Siapkan versi potong untuk kanal yang berbeda, misalnya feed Instagram, LinkedIn, atau pesan WhatsApp, karena ukuran dan kebiasaan membaca di setiap kanal tidak sama. Satu materi bisa disesuaikan tanpa harus membuat ulang dari nol.
Cara 9 bekerja
9 membantu bisnis menata pemasaran digital secara tenang, termasuk konten visual seperti infografis. Prosesnya dimulai dengan memahami tujuan bisnis, audiens, dan kanal yang dipakai. Dari situ kami menyusun rencana konten, membantu riset topik dan data, mengarahkan desain, lalu mengatur distribusinya. Ruang lingkupnya bisa berupa pendampingan, produksi, atau kombinasi keduanya, sesuai kebutuhan dan kapasitas tim Anda.
Kami tidak menjanjikan peringkat, jumlah trafik, volume prospek, atau hasil dalam tenggat tertentu. Yang bisa kami jaga adalah proses kerja yang rapi, keputusan berdasarkan data yang tersedia, dan komunikasi yang jelas tentang apa yang dikerjakan serta apa yang berada di luar lingkup. Jika infografis bukan kanal yang tepat untuk tujuan Anda, kami akan mengatakannya.
Diskusikan konteks bisnis Anda di halaman kontak atau WhatsApp. Kami tidak menjanjikan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam waktu tetap.