Jawaban langsung

IGTV sebagai aplikasi dan tab terpisah sudah tidak lagi dijalankan Instagram. Video berdurasi lebih panjang kini dilebur ke dalam pengalaman menonton di aplikasi utama, dan Reels menjadi tempat utama sebuah video bisa ditemukan orang baru. Karena itu, pertanyaan 'haruskah pemasar memakai IGTV' lebih tepat dijawab sebagai pertanyaan yang lebih luas: apakah bisnis Anda perlu aktif membuat video vertikal di Instagram? Untuk banyak bisnis di Indonesia, jawabannya cenderung ya, karena calon pembeli menghabiskan sebagian besar waktu layarnya di ponsel.

Namun cara mengerjakannya sekarang berbeda dari masa IGTV. Video pendek, potongan cepat, dan pesan yang jelas di detik-detik awal jauh lebih menentukan daripada durasi panjang. Video vertikal layak diprioritaskan bila produk atau jasa Anda memang lebih mudah dipahami saat dilihat, seperti kuliner, fesyen, perawatan kulit, perawatan kendaraan, properti, atau jasa yang butuh penjelasan bertahap. Sebaliknya, bila audiens Anda lebih banyak berkumpul di kanal lain, atau tim belum sanggup memproduksi video secara rutin, memulai dari format sederhana di kanal yang sudah berjalan biasanya lebih masuk akal daripada memaksakan kehadiran di semua platform sekaligus.

Apa itu IGTV dan ke mana formatnya berpindah

IGTV diperkenalkan Instagram pada 2018 sebagai ruang khusus untuk video vertikal berdurasi panjang, mulai dari 15 detik hingga sekitar 10 menit, dengan durasi lebih panjang untuk akun dengan pengikut besar. Awalnya hanya mendukung video vertikal, lalu Instagram menambahkan dukungan video horizontal. Channel IGTV tampil di deretan sorotan profil dan bahkan punya aplikasi terpisah. Posisinya saat itu berada di antara Story yang spontan dan YouTube yang lebih rapi dan terencana.

Seiring waktu, IGTV tidak lagi bertahan sebagai produk terpisah. Instagram menyatukan video ke dalam satu pengalaman menonton di aplikasi utama, dan Reels menjadi pintu utama bagi konten untuk ditemukan audiens baru. Konsekuensi praktisnya cukup jelas: alih-alih menyiapkan 'program' panjang khusus IGTV, pemasar kini menyiapkan video vertikal yang bisa hidup di feed, tampil di Reels, dan dibagikan ulang ke kanal lain seperti TikTok, YouTube Shorts, atau status WhatsApp.

Perbedaan peran antar format perlu dipahami agar tidak salah menempatkan tenaga. Story cocok untuk kedekatan harian dan bersifat cepat hilang, sementara video di feed dan Reels bertahan lebih lama serta bisa terus ditemukan lewat pencarian dan rekomendasi. Feed memberi konteks merek dan kredibilitas, sedangkan Reels membuka peluang dijemput audiens yang belum mengenal Anda.

Mengapa video vertikal tetap relevan bagi pasar Indonesia

Konsumen Indonesia terbiasa menonton sambil melakukan hal lain: menunggu antrean, di perjalanan, atau saat istirahat kerja. Video vertikal mengikuti kebiasaan itu karena direkam dan ditonton dengan satu tangan di ponsel. Bagi pemilik usaha, artinya video tidak harus mahal, tetapi harus cepat dipahami dalam kondisi perhatian yang terbagi.

Ada beberapa kondisi khas yang sebaiknya diperhitungkan. Pertama, banyak video ditonton tanpa suara, sehingga teks di layar dan subtitle bukan pelengkap melainkan keharusan. Kedua, kualitas koneksi pengguna bervariasi, jadi ukuran file dan kecepatan pemuatan perlu dijaga. Ketiga, konten yang dianggap berguna sering diteruskan lewat pesan pribadi atau grup, dan dari sanalah sebagian orang sampai ke profil bisnis Anda.

Konteks komersialnya juga luas, dari UMKM kuliner dan fesyen muslim hingga penyedia jasa profesional dan perusahaan B2B. Yang membedakan bukan besar kecilnya usaha, melainkan kejelasan penawaran dan kemampuan menjelaskan manfaat produk secara visual dalam waktu singkat.

Langkah memulai video vertikal di Instagram

Mulailah dari fondasi akun. Gunakan akun profesional agar Anda bisa melihat data performa, tulis bio yang langsung menyebut apa yang Anda jual dan untuk siapa, lengkapi tombol kontak atau tautan WhatsApp bisnis, lalu buat sorotan profil berdasarkan kategori, misalnya katalog, cara pesan, ulasan, dan pertanyaan umum.

Tentukan satu tujuan dan satu ukuran keberhasilan utama untuk satu periode. Tujuan pengenalan merek biasanya diukur dari jangkauan dan jumlah penonton baru, tujuan pertimbangan diukur dari simpan dan bagikan, sedangkan tujuan penjualan dilihat dari kunjungan profil, klik tautan, atau percakapan di pesan langsung. Memilih satu ukuran utama mencegah tim mengejar angka yang tidak berhubungan dengan bisnis.

Pilih format dan durasi sesuai tujuan. Video 15 sampai 30 detik cocok untuk menarik perhatian dan memperkenalkan produk, sedangkan 1 sampai 3 menit lebih pas untuk penjelasan, demo, atau membahas keberatan calon pembeli. Setelah itu, tetapkan standar produksi sederhana: rekam dengan ponsel pada posisi vertikal, gunakan cahaya alami dari jendela atau lampu ring, pasang mikrofon kecil bila tersedia, dan pastikan latar belakang tidak mengganggu pesan.

Terakhir, publikasikan secara konsisten lalu tinjau hasilnya. Perhatikan berapa lama orang menonton, berapa yang menyimpan dan membagikan, komentar apa yang muncul, serta apakah ada kenaikan kunjungan profil. Dari situ, Anda bisa memutuskan tema mana yang layak diulang dan mana yang sebaiknya dihentikan.

Praktik yang membuat video bekerja lebih baik

Tiga detik pertama adalah bagian yang paling menentukan. Awali dengan pertanyaan, masalah, atau hasil yang bisa dilihat, bukan dengan sapaan panjang dan logo. Setelah perhatian didapat, baru jelaskan siapa Anda dan apa yang ditawarkan.

Gunakan teks di layar untuk poin utama, pastikan subtitle terbaca di layar kecil, dan pertahankan rasio 9:16 tanpa garis hitam di sisi kanan-kiri. Satu video sebaiknya membawa satu pesan utama dengan satu ajakan yang jelas, misalnya mengunjungi tautan, mengirim pesan, atau menyimpan video ini untuk nanti.

Jaga ritme publikasi yang realistis. Mengunggah dua sampai tiga video per minggu secara berkelanjutan umumnya lebih baik daripada menumpuk sepuluh video lalu berhenti sebulan. Jangan langsung menghapus video yang performanya rendah; sering kali sebuah video menemukan penontonnya beberapa minggu setelah diunggah. Manfaatkan ulang materi yang sudah ada, dan seimbangkan konten penjualan dengan konten yang benar-benar membantu audiens menyelesaikan masalahnya.

Ide konten untuk bisnis lokal

Beberapa format yang biasanya mudah diterima adalah tutorial cara pakai atau cara membuat, demo perbandingan varian produk, dan cuplikan proses di balik layar seperti penyiapan bahan, pengemasan, atau pemeriksaan kualitas. Format seperti ini menjawab rasa penasaran sekaligus mengurangi keraguan sebelum membeli.

Format tanya jawab juga efektif, terutama bila diambil dari pertanyaan yang benar-benar masuk ke pesan langsung atau kolom komentar. Anda bisa membahas hal-hal praktis seperti cara memilih ukuran, cara merawat produk, estimasi pengiriman antarkota, atau perbedaan antara dua layanan yang sering tertukar. Bila Anda memiliki ulasan asli dari pelanggan dan sudah mendapat izin untuk menayangkannya, cuplikan singkat ulasan tersebut dapat menjadi bahan yang meyakinkan.

Konten musiman dan momen lokal juga bisa dimanfaatkan, misalnya menjelang Ramadan dan Lebaran, periode promo belanja daring, atau akhir tahun. Kuncinya adalah mengaitkan momen tersebut dengan penawaran nyata, bukan sekadar mengikuti keramaian tanpa hubungan dengan produk.

Kesalahan yang sebaiknya dihindari

Kesalahan paling umum adalah mengejar tren tanpa kaitan dengan penawaran, sehingga video ramai ditonton tetapi tidak menghasilkan percakapan jual beli. Kesalahan berikutnya adalah membiarkan video tanpa subtitle, menumpuk terlalu banyak pesan dalam satu unggahan, dan mengabaikan komentar atau pertanyaan yang masuk.

Hindari juga ekspektasi bahwa satu video akan langsung mengubah angka penjualan. Video vertikal bekerja sebagai bagian dari rangkaian: orang perlu melihat Anda beberapa kali sebelum merasa cukup yakin untuk menghubungi atau membeli. Karena itu, konsistensi tema dan kejelasan penawaran lebih berpengaruh daripada kejutan visual sesaat.

Cara 9 bekerja

9digitalmarketingagency.com membantu bisnis menata pemasaran digital, termasuk konten video, dengan pendekatan yang tenang dan terukur. Prosesnya biasanya dimulai dari memahami penawaran, audiens, dan kanal yang sudah berjalan. Dari situ kami menyusun rencana konten: pilar tema, format, jadwal unggah, dan cara mengukur hasilnya, sehingga keputusan tidak diambil berdasarkan tebakan.

Ruang lingkup pekerjaannya bisa mencakup penyusunan naskah pendek, arahan pengambilan gambar dengan ponsel, penyuntingan video vertikal, penulisan caption, penjadwalan publikasi, sampai peninjauan performa secara berkala. Semua ini disepakati di awal bersama Anda, termasuk siapa yang menyiapkan materi mentah dan seberapa sering kami berkoordinasi.

Kami juga terbuka soal batasannya. 9 tidak menjanjikan peringkat, jumlah tayangan, atau volume prospek dalam tenggat waktu tertentu, karena hasil dipengaruhi banyak faktor di luar kendali kami seperti perubahan algoritma platform, kondisi pasar, harga, kualitas produk, dan konsistensi tim Anda sendiri. Yang bisa kami pastikan adalah proses kerja yang rapi, dokumentasi yang jelas, dan rekomendasi yang berdasar pada data yang benar-benar tersedia.

Diskusikan konteks bisnis Anda di halaman kontak atau WhatsApp. Kami tidak menjanjikan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam waktu tetap.