Jawaban langsung
Retargeting adalah cara menampilkan iklan atau pesan susulan kepada orang yang sudah pernah berinteraksi dengan bisnis Anda: mengunjungi situs, membuka katalog, menambahkan produk ke keranjang, atau berhenti di tengah proses checkout. Tujuannya bukan mencari audiens yang sama sekali baru, melainkan mengembalikan orang yang sudah tahu tentang Anda dan mendorong mereka menyelesaikan keputusan.
Strategi retargeting yang sehat berdiri di atas tiga hal: memahami alasan orang datang, memecah audiens berdasarkan tahap niatnya, dan menyesuaikan pesan dengan tahap tersebut. Bisnis yang menjalankannya dengan rapi umumnya mendapat penggunaan anggaran yang lebih efisien karena berbicara kepada orang yang sudah mengenal merek. Namun tidak ada jaminan hasil dalam jangka waktu tertentu, karena hasil akhirnya ditentukan oleh produk, harga, layanan, dan respons pasar.
Apa Itu Retargeting dan Bedanya dengan Remarketing
Retargeting adalah praktik pemasaran berbayar yang menampilkan iklan kepada orang yang pernah berinteraksi dengan properti digital Anda. Istilah remarketing sering dipakai untuk hal yang mirip, terutama ketika kumpulan audiens dibentuk dari data pelanggan sendiri, misalnya daftar email atau nomor kontak, lalu dipakai untuk menampilkan iklan maupun mengirim pesan susulan.
Di Indonesia, retargeting umumnya berjalan di beberapa kanal sekaligus: iklan di media sosial, jaringan display, video pendek, serta pesan langsung lewat email atau aplikasi chat. Kuncinya bukan mengejar sebanyak mungkin kanal, tetapi memilih kanal yang memang dipakai audiens Anda setiap hari.
Perlu dipahami sejak awal bahwa sebagian besar orang tidak membeli pada kunjungan pertama. Mereka membandingkan harga, membaca ulasan, menunggu waktu yang tepat, atau menunggu momen promo. Retargeting hadir untuk mengisi jarak waktu itu dengan informasi yang relevan, bukan untuk memaksa keputusan yang belum siap.
Mulai dari Tujuan Kunjungan, Bukan dari Iklan
Sebelum membuat iklan retargeting pertama, pahami lebih dulu mengapa orang mengunjungi situs Anda. Ada yang mencari informasi, ada yang membandingkan spesifikasi, ada pula yang sekadar melihat-lihat karena tertarik pada konten. Setiap niat menuntut pesan yang berbeda.
Cara praktisnya, periksa halaman mana yang paling sering dikunjungi, halaman mana yang sering menjadi pintu masuk, dan halaman mana yang membuat orang cepat keluar. Dari pola itu Anda bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya dicari pengunjung.
Misalnya, jika banyak pengunjung datang ke halaman kategori untuk melihat koleksi terbaru, retargeting sebaiknya menampilkan produk baru atau panduan memilih, bukan potongan harga besar-besaran yang justru menurunkan persepsi nilai merek Anda.
Segmentasi Audiens agar Iklan Tidak Terasa Mengganggu
Kesalahan paling umum adalah mengirim satu pesan yang sama ke seluruh audiens. Iklan jadi terasa umum, kurang relevan, dan mudah diabaikan. Solusinya adalah segmentasi berdasarkan perilaku, bukan berdasarkan asumsi.
Beberapa segmen dasar yang bisa Anda pakai: pengunjung baru yang belum melihat produk, orang yang melihat halaman produk tertentu tetapi belum menambahkan ke keranjang, orang yang menambahkan produk ke keranjang namun tidak melanjutkan checkout, orang yang sudah pernah membeli, serta pelanggan setia yang layak menerima penawaran lanjutan.
Untuk setiap segmen, atur dua hal teknis: batas frekuensi tayang dan pengecualian. Batas frekuensi menjaga iklan tidak muncul terlalu sering sampai mengganggu, sedangkan pengecualian memastikan orang yang sudah membeli tidak terus melihat iklan produk yang sama. Pastikan pula pengumpulan dan penggunaan data audiens mengikuti ketentuan perlindungan data pribadi yang berlaku serta kebijakan masing-masing platform.
Susun Pesan Sesuai Tahap Niat Pembeli
Setelah segmen terbentuk, barulah pesan disusun. Prinsipnya sederhana: semakin dekat seseorang ke pembelian, semakin langsung penawaran yang diberikan.
Untuk pengunjung awal, pesan yang menonjolkan keunggulan produk atau berbagi edukasi biasanya lebih efektif daripada dorongan keras untuk membeli. Untuk orang yang sudah melihat produk tertentu, tampilkan kembali produk itu bersama informasi pendukung seperti ulasan, cara pakai, atau panduan ukuran. Untuk yang berhenti di keranjang, ingatkan bahwa item masih tersimpan dan jelaskan kemudahan pengiriman, pilihan pembayaran, atau kebijakan pengembalian.
Sementara untuk pelanggan lama, retargeting sebaiknya berupa rekomendasi produk pelengkap, akses awal ke koleksi baru, atau program loyalitas. Menawarkan diskon besar kepada orang yang sudah loyal sering kali menggerus margin tanpa alasan yang kuat.
Pilih Kanal Sesuai Kebiasaan Audiens
Kanal retargeting tidak harus banyak, tetapi harus tepat. Iklan di media sosial cocok untuk menjangkau orang yang aktif melihat feed. Jaringan display dan video membantu menjaga merek tetap terlihat saat audiens membaca artikel atau menonton konten. Email dan pesan chat cocok untuk audiens yang sudah pernah meninggalkan kontak, dengan catatan mereka setuju untuk dihubungi.
Pertimbangkan juga perpindahan perangkat. Banyak orang melihat produk dari ponsel, lalu menyelesaikan pembelian dari laptop, atau sebaliknya. Karena itu, pastikan pengukuran lintas perangkat diatur dengan benar agar data audiens tidak terpotong dan laporan tidak menyesatkan.
Ukur, Evaluasi, lalu Perbaiki
Retargeting perlu diukur dengan metrik yang sesuai tujuannya. Pada tahap kesadaran, yang relevan adalah jangkauan dan frekuensi tayang. Pada tahap pertimbangan, perhatikan tingkat klik dan keterlibatan. Pada tahap konversi, lihat biaya per hasil serta nilai transaksi yang dihasilkan dibandingkan biaya iklan.
Jangan hanya melihat angka konversi akhir. Frekuensi yang terus naik sementara tingkat klik menurun biasanya menandakan audiens mulai jenuh. Sebaliknya, tingkat klik yang sehat tetapi konversi rendah bisa berarti halaman tujuan atau proses checkout perlu dibenahi lebih dulu.
Ubah satu hal pada satu waktu agar jelas apa yang berpengaruh, dan beri waktu yang cukup sebelum menyimpulkan hasil. Angka retargeting dipengaruhi musim, harga, ketersediaan stok, dan persaingan, sehingga naik-turunnya tidak bisa dipastikan sebelumnya.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Hindari menyamakan pesan untuk semua orang, menargetkan audiens terlalu luas sampai iklan muncul di konteks yang tidak relevan, serta lupa mengecualikan orang yang sudah membeli. Jangan pula mengabaikan izin dan pengelolaan data pelanggan.
Satu hal yang sering terlupakan: retargeting hanya bertugas mengantar orang kembali ke situs. Jika halaman produk lambat dibuka, informasi harga tidak jelas, atau proses checkout berbelit, hasilnya tetap tidak berubah. Perbaikan pengalaman di situs sama pentingnya dengan perbaikan iklan.
Cara 9 bekerja
9 membantu bisnis menata pemasaran digital, termasuk retargeting, secara terencana dan tenang tanpa terburu-buru mengejar hasil instan. Kami mulai dengan memahami produk, target pasar, dan tujuan bisnis Anda, lalu memetakan kanal yang paling masuk akal untuk dijalankan lebih dulu.
Ruang lingkup kerja biasanya mencakup peninjauan data dan pelacakan, penyusunan struktur audiens, perencanaan pesan dan materi iklan, pengaturan pelaporan, hingga evaluasi berkala bersama tim Anda. Kami juga menjelaskan batasannya secara terbuka: hasil ditentukan oleh kualitas produk, harga, layanan, dan respons pasar, sehingga tidak ada jaminan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam jangka waktu tertentu.
Setiap rekomendasi disesuaikan dengan skala bisnis dan anggaran Anda, dan kami terbuka bila ada kanal yang ternyata belum layak dijalankan. Fokus kami adalah membangun fondasi pemasaran yang bisa dipelajari, diukur, dan diperbaiki bersama.
Diskusikan konteks bisnis Anda di halaman kontak atau WhatsApp. Kami tidak menjanjikan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam waktu tetap.