Jawaban langsung
Trendjacking adalah praktik memasukkan tren yang sedang ramai dibicarakan — meme, istilah gaul, lagu viral, momen budaya populer, atau kejadian yang menjadi perbincangan publik — ke dalam konten dan kampanye pemasaran. Tujuannya bukan sekadar ikut ramai, melainkan menempelkan brand pada percakapan yang sudah berjalan agar lebih mudah diperhatikan audiens. Jawaban singkatnya: ya, trendjacking layak dipertimbangkan, tetapi hanya jika trennya relevan dengan audiens Anda, Anda memahami konteks asalnya, dan brand siap menanggung risikonya.
Yang perlu diluruskan sejak awal: trendjacking bukan jalan pintas menuju hasil. Ia tidak menjamin lonjakan penjualan, kenaikan peringkat pencarian, atau jumlah prospek dalam waktu tertentu. Posisinya lebih tepat sebagai pelengkap di atas fondasi pemasaran yang sudah tertata — positioning yang jelas, identitas visual yang konsisten, dan pemahaman audiens yang cukup. Tanpa fondasi itu, konten yang menumpang tren cenderung hanya ramai sesaat lalu hilang tanpa jejak.
Apa itu trendjacking dan apa bedanya dengan iklan biasa
Trendjacking adalah mengambil momentum yang sudah menarik perhatian orang banyak, lalu mengaitkannya dengan pesan brand. Alih-alih membangun perhatian dari nol lewat iklan konvensional, brand menumpang perhatian yang sudah terbentuk. Inilah alasan strategi ini terasa lebih ringan biayanya: audiens sudah berkumpul di percakapan itu, tugas brand hanya membuat kaitan yang masuk akal dan menyenangkan.
Bedanya dengan berita biasa atau newsjacking: trendjacking umumnya bermain di ranah budaya populer dan gaya bahasa, bukan di ranah pernyataan resmi atau sikap korporat. Ia lebih dekat ke bercanda bersama audiens daripada mengumumkan sesuatu. Karena itu, nada bicaranya harus sesuai dengan kepribadian brand — brand jasa keuangan tidak bisa memakai gaya bahasa yang sama dengan brand minuman kekinian.
Yang membuatnya bekerja secara sederhana: orang sudah punya konteks. Ketika Anda menyebut satu istilah yang sedang viral, audiens langsung menangkap leluconnya tanpa perlu dijelaskan panjang. Efeknya adalah kedekatan — brand terasa ikut duduk di meja yang sama dengan pelanggannya, bukan berbicara dari balik podium.
Jenis tren yang paling sering dimanfaatkan brand di Indonesia
Ada beberapa kelompok tren yang berulang setiap tahun di pasar Indonesia. Pertama, bahasa dan meme yang lahir dari media sosial — istilah yang tiba-tiba dipakai semua orang, potongan video pendek yang dijadikan format, atau pola kalimat yang diulang-ulang. Kedua, momen musiman seperti Ramadan dan Lebaran, musim gajian, tanggal kembar, serta periode belanja besar yang sudah menjadi kebiasaan konsumen.
Ketiga, tren hiburan: film yang sedang ramai, lagu yang diputar berulang, pertandingan olahraga, atau sinetron yang jadi bahan obrolan. Keempat, tren kuliner dan minuman — menu yang sedang viral, teknik penyajian yang unik, atau bahan yang tiba-tiba dicari banyak orang. Kelima, momen sosial yang dibicarakan publik secara luas, yang biasanya paling sensitif dan paling perlu kehati-hatian.
Permainan visual juga sering dipakai karena murah dan mudah dipahami. Contohnya, sebuah brand kuliner bisa mengunggah foto potongan kue lapis dan menuliskan keterangan bercanda yang membandingkannya dengan formasi bebatuan di sebuah taman nasional. Tidak ada penjelasan rumit; audiens menangkap kelucuannya dalam satu kali lihat, lalu membagikannya karena merasa ikut menemukan lelucon itu.
Ilustrasi penerapan di konteks bisnis Indonesia
Bayangkan sebuah kedai kopi lokal yang mengubah nama menu terbatasnya mengikuti istilah yang sedang ramai di media sosial. Kontennya sederhana: foto menu, satu kalimat pendek, dan penjelasan tanggal ketersediaan. Yang didapat bukan hanya interaksi, tetapi juga alasan bagi pelanggan untuk datang dan menyebut nama menu itu ke temannya.
Contoh lain, brand fesyen atau perawatan diri yang mengaitkan kontennya dengan momen gajian. Alih-alih berteriak diskon, ia berbicara tentang keputusan kecil yang diambil orang saat uang bulanan baru masuk. Konten semacam ini terasa relevan karena menempel pada kebiasaan nyata, bukan pada tren yang hanya lucu di permukaan.
Untuk brand bisnis ke bisnis, trendjacking biasanya tidak berbentuk meme konsumen. Bentuknya lebih pada percakapan industri: istilah baru yang sedang dipakai pelaku usaha, kekhawatiran yang sedang dibicarakan di forum profesional, atau perubahan kebiasaan kerja. Nadanya lebih tenang, tetapi prinsipnya sama — menempel pada percakapan yang sudah berjalan agar pesan brand tidak tenggelam.
Kapan sebaiknya ikut arus, dan kapan sebaiknya diam
Sebelum ikut arus, jawab beberapa pertanyaan ini dengan jujur. Apakah tren ini benar-benar dipahami tim Anda, bukan hanya dilihat dari satu potongan video? Apakah audiens inti brand Anda memang bagian dari percakapan itu? Apakah ada kaitan yang wajar antara tren dan produk atau nilai brand, atau kaitan itu harus dipaksakan? Apakah brand punya kepribadian yang cocok dengan nada bercandanya? Dan yang paling penting: apakah brand siap jika kontennya justru menuai kritik?
Jika jawabannya sebagian besar ya, tren itu layak dicoba dengan catatan waktu eksekusi cepat. Tren punya masa hidup pendek; konten yang datang terlambat akan terasa basi dan justru menunjukkan brand kurang peka. Kalau proses persetujuan internal Anda butuh berhari-hari, sebaiknya siapkan format konten yang bisa diisi cepat ketika momen muncul, atau lewati saja tren tersebut.
Sebaliknya, ada situasi yang sebaiknya dihindari sepenuhnya: bencana, duka, konflik politik, isu agama dan identitas, serta krisis yang menimpa pihak lain. Meminjam momen seperti itu untuk promosi hampir selalu terbaca sebagai tidak peka, sekalipun niatnya bercanda. Aturan praktisnya sederhana — jika Anda harus menjelaskan kenapa lelucon itu tidak menyinggung, kemungkinan besar memang menyinggung.
Risiko yang sering diabaikan
Risiko pertama adalah salah konteks. Banyak istilah viral lahir dari kejadian yang tidak sedap, sindiran, atau bahkan perundungan. Memakainya tanpa menelusuri asalnya bisa membuat brand terlihat tidak memahami situasi. Risiko kedua adalah kehilangan suara sendiri: jika setiap konten hanya mengikuti format yang sedang ramai, audiens sulit mengingat apa yang sebenarnya brand Anda perjuangkan.
Risiko ketiga berkaitan dengan hak pakai. Meme, foto, musik, dan potongan video sering kali punya pemilik. Mengambil tanpa izin bisa menimbulkan masalah, terutama jika konten dipakai untuk keperluan komersial. Risiko keempat adalah jebakan angka: konten yang ramai tidak otomatis menghasilkan prospek berkualitas. Interaksi tinggi dari audiens yang tidak akan pernah membeli bisa terasa memuaskan di laporan, tetapi tidak menggerakkan bisnis.
Karena itu, trendjacking sebaiknya diposisikan sebagai taktik tambahan, bukan tulang punggung strategi. Bisnis tetap perlu konten yang menjelaskan produk, membangun kepercayaan, dan menjawab pertanyaan calon pelanggan. Tren hanya memberi pintu masuk; isi rumahnya tetap harus dibangun.
Cara menilai apakah sebuah tren layak diambil
Mulailah dengan menetapkan tujuan sebelum memilih tren. Apakah tujuannya menambah jangkauan, mengundang interaksi, memperkenalkan produk baru, atau sekadar menjaga brand tetap terlihat aktif? Tujuan yang jelas menentukan bentuk konten dan cara menilainya. Tanpa itu, tim cenderung mengejar angka yang paling mudah naik, bukan yang paling relevan.
Susun daftar periksa singkat yang dipakai berulang: relevansi dengan audiens, kesesuaian dengan nilai brand, kejelasan konteks, ketersediaan aset yang legal, waktu eksekusi, dan potensi reaksi negatif. Nilai setiap tren pada skala sederhana, lalu ambil yang skornya paling aman. Cara ini membuat keputusan tidak bergantung pada selera satu orang di ruangan.
Setelah konten tayang, ukur dengan metrik yang sesuai tujuan awal, dan bandingkan dengan performa konten biasa brand Anda — bukan dengan akun lain yang konteksnya berbeda. Pelajaran yang paling berharga biasanya bukan angka akhirnya, melainkan catatan tentang tren seperti apa yang membuat audiens Anda benar-benar merespons.
Cara 9 bekerja
9 membantu bisnis menata pemasaran digital secara tenang dan terukur, termasuk ketika harus mengambil keputusan cepat soal tren. Kami mulai dari memahami bisnis, audiens, dan posisi brand Anda, lalu menyusun kerangka konten yang membuat keputusan trendjacking tidak lagi bergantung pada tebakan. Ruang lingkupnya mencakup riset audiens dan percakapan pasar, penyusunan kalender konten, produksi materi, distribusi di kanal yang relevan, serta pengukuran berkala untuk melihat apa yang benar-benar bekerja.
Kami juga membantu menetapkan batas yang jelas: topik apa yang boleh dan tidak boleh disentuh, nada bicara seperti apa yang sesuai dengan brand, dan siapa yang berwenang menyetujui konten cepat. Batasan ini penting supaya kecepatan tidak mengorbankan kewajaran.
Yang perlu dipahami sejak awal, 9 tidak menjanjikan viral, peringkat tertentu, atau hasil dalam jangka waktu tetap. Tren bergerak di luar kendali siapa pun, dan respons audiens selalu beragam. Yang bisa kami janjikan adalah proses yang rapi, keputusan yang berdasar, dan pekerjaan yang dilakukan secara terbuka — sehingga setiap langkah bisa dipelajari dan diperbaiki bersama.
Diskusikan konteks bisnis Anda di halaman kontak atau WhatsApp. Kami tidak menjanjikan peringkat, volume prospek, atau hasil dalam waktu tetap.